Seputar Mengenai Memotong Kuku Dalam Ajaran Islam



Menurut Imam an-Nawawi, sunat memotong kuku bermula jari tangan kanan keseluruhannya daripada jari telunjuk sehinggalah jari kelingking dan diikuti ibu jari, kemudian tangan kiri daripada jari kelingking sehinggalah ibu jari.
Sementara kuku kaki pula, bermula kaki kanan daripada jari kelingking sehinggalah ibu jari kemudian kaki kiri daripada ibu jari sehinggalah kelingking.

Waktu Memotong Kuku

Dalam perkara waktu memotong kuku, aku berpatokan kepada hadits berikut, sebagaimana diriwayatkan
daripada Anas bin Malik yang artinya:“Telah ditentukan waktu kepada kami memotong misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih daripada empat puluh malam.” (Hadis riwayat Muslim)

Adapun menurut Imam asy-Syafi‘e dan ulama-ulama asy-Syafi‘eyah, sunat memotong kuku itu sebelum mengerjakan sembahyang Jum‘at, sebagaimana disunatkan mandi, memotong kuku, memakai wangi2an, berpakaian rapi sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan sembahyang Jum‘at.

Diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma yang artinya:“Bersabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa saja yang mandi pada hari Jum‘at, memotong kuku, berwangian (memakai wangi2an) jika memilikinya dan memakai pakaian yang terbaik kemudian keluar rumah sehingga sampai ke masjid, dia tidak melangkahi (menerobos masuk) orang-orang yang telah bersaf, kemudian dia mengerjakan sembahyang apa saja (sembahyang sunat), dia diam ketika imam keluar (berkhutbah) dan tidak berkata-kata sehingga selesai mengerjakan sembahyang, maka jadilah penebus dosa di antara Jum‘at itu dan Jum‘at sebelumnya.”(Hadis riwayat Ahmad)

Dari Abu Hurairah didapatkan hadits berikut: “Bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘alahi wasallam memotong kuku dan mengunting misai (kumis) pada hari Jum‘at sebelum Baginda keluar untuk bersembahyang.”(Riwayat al-Bazzar dan ath-Thabrani)

Menanam Potongan Kuku

Referensinya adalah sebagaimana disebutkan dalam kitab Fath al-Bari, bahwa Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhu menanam potongan kuku.

Memotong Kuku Ketika Haid, Nifas Dan Junub


Menurut kitab Al-Ihya’, jika seseorang itu dalam keadaan junub atau berhadas besar, jangan dia memotong rambut, kuku atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu yang jelas daripada badannya sebelum dia mandi junub. Kerana segala potongan itu di akhirat kelak akan kembali kepadanya dengan keadaan junub.

Memanjangkan Kuku Dan Mewarnainya (Cutex)



Kebiasaan memanjangkan kuku dan membiarkannya tanpa dipotong adalah perbuatan yang bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihhi wasallam, karena Rasululloh SAW mencontohkan agar memotong kuku.

Adapun dalam hal mewarnai kuku (cutex), referensi yg aku dapatkan menyatakan perempuan yang bersuami adalah haram mewarnai kuku jika suaminya tidak mengizinkan. Sementara perempuan yang tidak bersuami pula, haram baginya mewarnai kuku. Demikian juga jika pewarna itu diperbuat daripada benda najis (dari bahan lemak babi, misalnya) adalah haram digunakan.

Jika pewarna kuku itu boleh menghalangi masuknya air, maka tidak boleh menggunakan pewarna tersebut. Jika masih digunakan, maka tidaklah sah wudhu apabila dia berhadas kecil, atau mandi wajib apabila dia berhadas besar yaitu haid, nifas atau junub. Hal ini dikarenakan saat wudhu, air HARUS mengenai semua bagian…tanpa kecuali.
Hal ini berbeda pula dengan berinai (berpacar…menggunakan ‘kutex’ namun dari daun pacar), kerana perempuan yang bersuami atau perempuan yang hendak berihram sunat baginya berinai atau berpacar.
Adalah haram hukum berinai (memasang ‘pacar’) bagi kaum lelaki pada dua tangan dan kaki. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik katanya yang maksudnya : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kaum lelaki memakai za‘faran (kuma-kuma).”(Hadis riwayat Muslim)

Sumber : kaskus.us

0 Response to "Seputar Mengenai Memotong Kuku Dalam Ajaran Islam"

Posting Komentar

kalo suka dengan postingan ini, komentar ya gan!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Powered by Blogger